Angkata 13 Dilautan Api
Cerita dimulai pada tahun 2013, di kota lautan api bandung jawa barat.
Arnol Meaga: saya menggenalnya lebih dekat, semasa kami kuliah, Pribadinya lembut dan murah senyum. Ketika disapa lebih dekat lagi, dia adalah pribadi yang hangat dan humoris, selalu tampil dengan penampilannya serdehana.
Di satu sisi, dia adalah sosok yang saya kagumi dalam anggkat kami, pada saat kami kuliah di lautan api bandung jawa barat, saya sering menyapanya dengan panggilan pak guru, dia adalah sosok kawan yang cerdas, dia adalah seorang kutu buku, kami sering mengejeknya, "sobat jangan ko terlalu banyak membaca lihat ko kepala su mau botak tu, " seperti biasa dia hanya membalas ejekan kami dengan senyum nakalnya.
Arnol Meaga, dia adalah sosok kawan yang cerdas, selalu terbuka memberikan pandangan baru dalam diskusi-diskusi kami, dia selalu memberikan kesimpulan dengan analisisya yang realistis. Dia juga sosok pribadi yang tegas dan beprinsip, tidak mudah perkompromi, walaupun dilihat dari luar, dan Ketika disapa dari dekat, dia adalah pribadi yang lembut dan hangat.
Di awal tahun 2013, kami mulai terlibat dalam diskusi-diskusi ruting yang diselengarakan oleh organisasi gerakan, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), kami mulai menyadari dengan kondisi objektif kami rakyat papua yang tidak baik-baik saja, kami secara sadar, mulai terlibat dalam pendidikan politik (dikpol) gerakan pembebasan nasional papua barat, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) komite kota bandung. Saya, Arnol A Meaga, Cristian Medlama, Melky T, almahrum Yeri Y, dan beberapa kawan lain, kami sangat aktif dan konsisten dalam menyuarakan agenda rakyat papua, hingga tahun 2019 kami berpisah.
Paska rasisme tahun 2019, terhadap mahasiswa papua di surabaya jawa timur, kawan Arnol Meaga bersama kawan-kawan lain, memilih eksodus bersama mahasiswa papua di bandung, sesampai di papua (wamena) kawan arnal meaga, cristia, melky bersama kawan lain memilih bertahan dan buka warung kopi (warkop) sebagai tempat diskusi mereka, terakhir membaggung forum literasi west papua (FLWP) dan dia aktif menulis dalam dinding facebooknya, hingga tulisany di buat oleh jubi.
Juli 2022 itu, terkahir saya berkomunikasi dengan dia lewat telpon seluler, seperti biasa saya menyapanya lebih dulu dengan sapaan khas kami "sobat" apa kabr ? Dia jawab "an baik bpk pilamo", saya membalasnya "syukurlah, ee...harusnya saya yang harus panggil hat bapak, saya kan belum punya kabo" kami saling tertawa dan saya teruskan tanya dia soal situasi di wamena dan perkembangan warkop serta forum literasi west papua. Dia menjelaskan dengan bahasa yang yang sedikit serius.
Dia bilang, Daerah otonomi baru (DOB) adalah ancaman besar bagi orang papua (lapago). Tanah adat, hutan, gunung, hutan, dan sumber daya alam, menjadi sasaran objek Negara di balik UU DOB Sobat, kita tau apa yang akan terjadi: sekarang kita punya pekerkerjaan besar dan tidak muda lagi. Kita harus membanggun satu kesadaran dan kekuatan perlawanan masyarakat adat, agar tidak kehilangan tanahnya, rumahnya, hutanya, dengan cara menjual maupun mengijinkan mebanggung atas nama kepentingan negara dan pemerintah. Saya hanya membalas "iya benar sobat Bagi kami tanah adalah tuhan yang memberikan segalah sumberkehidupan."
Dia tambahkan lagi kondisi warkop, sementara saya juga sedikit sibuk dengan pekerjaan jadi kadang di warkop kosong, sobat saya butuh hat dan beberapa kawan. Sobat kamu cepat balik sudah ke wamena, saya hanya menjawab "baik sobat."
pagi ini tepat tanggal 1 november saya mendapatkn telpon bahwa kawan Arnol Meaga meninggal di rumah sakit Dian Harapan jayapura. Saya tidak tahu penyebabnya, Tapi sedikit penyelasan dari keluarga. Bahwa dia sakit sudah 3 bulan, awalnya dia sakit bagian kaki, lalu di bawa kerumah sakit wamena tapi penyakitnya tidak bisa ditemukan, sehingga dikasih rujukan ke jayapura.
Hasil pemeriksaan minggu pertama sejak di rumah sakit Dian Harapan jayapura bahwa dia derita penyakit tumor otak, dan pemeriksaan kedua dia kena kangker otak.
Satu hal yang saya pelajari dari pribadi Arnol Meaga adalah sikap tegasnya dan selalu konsisten untuk memperjuangkan nasib bangsa papua. Mulai dari menulis hingga membangun pendidikan alternatif dan melahirkan kader-kader revolusioner.
Selamat jalan Kamrad Arnol Meaga.
Api perjuanganmu akan tetap nyala dan bergelora bersama rakyat papua.Usai sudah tugasmu di dunia ini kamradku. Kami akan tetap menjaga dan meneruskan mencapai cita-cita leluhur bangsa papua yaitu "Kemerdekaan".
Beristirahatlah dengan tenang bersama leluhur bangsa papua.
Komentar
Posting Komentar